Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah seperti “stres”, “cemas”, atau “sedih”, yang merupakan reaksi normal terhadap berbagai situasi. Namun, kapan perasaan-perasaan ini berubah menjadi tanda gangguan mental? Batas antara kesehatan mental yang “normal” dan kondisi yang memerlukan perhatian lebih sering kali sulit ditentukan. Banyak orang yang mengalami gejala gangguan mental tetapi mengabaikannya, menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihadapi tanpa bantuan. Padahal, memahami kapan perlu mencari pertolongan adalah langkah penting untuk menjaga kesejahteraan psikologis.
Setiap individu memiliki tingkat ketahanan mental yang berbeda terhadap tekanan hidup. Faktor seperti durasi, intensitas, dan dampak suatu gejala pada kehidupan sehari-hari menjadi penentu utama apakah seseorang membutuhkan bantuan profesional. Jika rasa cemas menghambat aktivitas sosial, depresi membuat seseorang kehilangan minat pada hal-hal yang dulu ia sukai, atau perubahan suasana hati yang ekstrem mengganggu hubungan interpersonal, maka ini bisa menjadi tanda bahwa kondisi tersebut bukan lagi sesuatu yang “normal”. Sayangnya, stigma sosial masih membuat banyak orang ragu untuk berbicara dan mencari pertolongan.
Penting untuk menyadari daftar trisula88 bahwa kesehatan mental adalah spektrum, bukan sekadar dikotomi antara “normal” dan “tidak normal”. Setiap orang memiliki momen di mana mereka merasa tertekan atau tidak stabil secara emosional, tetapi yang membedakan adalah bagaimana mereka mengatasinya dan apakah itu berdampak besar pada kehidupan mereka. Dengan meningkatnya kesadaran dan pemahaman tentang kesehatan mental, kita dapat lebih peka terhadap diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Menghapus stigma, mencari bantuan ketika diperlukan, dan mendukung satu sama lain adalah kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara mental dan emosional.